
Warga Gaza: Dewan Perdamaian Ada, Tapi Kami Makin Menderita
Warga Gaza: Dewan Perdamaian Ada, Tapi Kami Makin Menderita Yang Sampai Saat Ini Masih Terbilang Sama Dan Begitu Saja. Pernyataan Warga Gaza yang menyebut bahwa “dewan perdamaian itu ada. Akan tetapi penderitaan kami justru semakin berat” menjadi sorotan luas di berbagai media internasional. Kalimat tersebut bukan sekadar kritik. Namun melainkan cerminan kekecewaan mendalam terhadap upaya-upaya perdamaian. Karena yang di nilai tidak menyentuh realitas kehidupan sehari-hari di sana. Di tengah konflik yang tak kunjung reda, istilah “perdamaian” sering terdengar dalam forum internasional, rapat diplomatik. Dan pernyataan resmi para pemimpin dunia. Namun bagi Warga Gaza, makna perdamaian terasa semakin jauh dari kehidupan nyata. Berikut fakta-fakta yang melatarbelakangi pernyataan keras tersebut.
Perdamaian Di Bahas Di Forum, Bukan Di Rasakan Di Lapangan
Salah satu fakta utama yang di sampaikan mereka adalah adanya jurang besar antara diskusi perdamaian dan kondisi nyata di lapangan. Mereka mengakui bahwa dewan perdamaian, perundingan. Dan resolusi internasional memang ada dan terus dibicarakan. Namun, bagi warga sipil, hasil dari semua pembahasan itu tidak terlihat secara langsung. Akses terhadap kebutuhan dasar seperti listrik, air bersih. Dan juga layanan kesehatan masih sangat terbatas. Serangan dan ketegangan tetap terjadi, membuat kata “perdamaian” terdengar. Terlebihnya seperti konsep abstrak yang tidak menyentuh kehidupan sehari-hari mereka.
Kondisi Kemanusiaan Justru Semakin Memburuk
Fakta lain yang menguatkan pernyataan mereka adalah memburuknya kondisi kemanusiaan. Blokade, keterbatasan logistik. Serta rusaknya infrastruktur membuat kehidupan warga semakin sulit. Banyak keluarga harus bertahan dengan sumber daya minim. Sementara masa depan terasa penuh ketidakpastian. Warga menilai bahwa jika dewan perdamaian benar-benar efektif. Dan yang seharusnya ada perubahan signifikan dalam kondisi hidup mereka. Namun yang terjadi justru sebaliknya: penderitaan berlarut-larut tanpa kepastian kapan akan berakhir. Inilah yang memicu rasa frustrasi dan kekecewaan mendalam.
Suara Warga Sipil Kerap Tak Terdengar
Dalam pernyataan mereka, mereka juga menyoroti fakta bahwa suara masyarakat sipil jarang menjadi pusat perhatian dalam proses perdamaian. Keputusan besar sering di ambil oleh elite politik dan aktor internasional. Sementara pengalaman langsung warga di lapangan tidak selalu menjadi pertimbangan utama. Akibatnya, kebijakan yang di hasilkan kerap tidak sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat. Warga merasa hanya di jadikan angka dalam laporan kemanusiaan. Namun bukan subjek yang di dengar aspirasinya. Kondisi ini memperkuat persepsi bahwa keberadaan dewan perdamaian belum sepenuhnya berpihak pada penderitaan manusia.
Harapan Akan Perdamaian Nyata Masih Tetap Ada
Meski di liputi kekecewaan, fakta menarik lainnya adalah mereka tidak sepenuhnya kehilangan harapan. Di balik pernyataan kritis tersebut, masih tersimpan keinginan besar akan perdamaian yang nyata. Namun bukan sekadar simbol atau dokumen. Warga berharap adanya perubahan pendekatan dari komunitas internasional. Tentunya di mana kemanusiaan di tempatkan sebagai prioritas utama. Mereka menginginkan perdamaian yang bisa dirasakan dalam bentuk keamanan, akses hidup layak. dan masa depan yang lebih pasti bagi generasi berikutnya.
Pernyataan “Dewan perdamaian ada, tapi kami makin menderita” mencerminkan realitas pahit yang di rasakan mereka. Fakta-fakta di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan forum. Dan dewan perdamaian belum otomatis mengakhiri penderitaan warga sipil. Selama hasil nyata belum dirasakan, kritik dan kekecewaan akan terus muncul. Isu ini menjadi pengingat bahwa perdamaian sejati tidak cukup di bicarakan di meja perundingan. Ia harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang terdampak langsung oleh konflik. Bagi mereka, perdamaian bukan sekadar kata. Namun melainkan kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup.
Karena sampai saat ini dengan adanya Dewan Perdamaian malah membuat kehidupan mereka semakin menderita yang di rasakan Warga Gaza.