
Riset 3 Dari 5 Anak Di Perkotaan Kurang Aktivitas Fisik
Riset 3 Dari 5 anak yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan bahwa 3 dari 5 anak yang tinggal di wilayah perkotaan mengalami kekurangan aktivitas fisik. Studi yang dilakukan sepanjang tahun 2024 ini melibatkan lebih dari 12.000 anak berusia 6–17 tahun dari 10 kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar.
Menurut hasil riset, hanya sekitar 38% anak yang memenuhi standar aktivitas fisik yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni minimal 60 menit aktivitas fisik sedang hingga berat per hari. Sisanya, sebagian besar menghabiskan waktu lebih dari 6 jam per hari untuk aktivitas pasif seperti menonton televisi, bermain game, atau menggunakan ponsel.
Dr. Lucia Hartini, pakar tumbuh kembang dari IDAI, menyebut kondisi ini sebagai “alarm kesehatan masa depan.” Ia menjelaskan bahwa kurangnya gerak tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik seperti obesitas, tapi juga pada aspek psikologis anak. “Anak-anak jadi lebih mudah stres, susah tidur, dan menurun kemampuan kognitifnya karena kurang bergerak,” ujarnya dalam konferensi pers peluncuran laporan tersebut.
Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya aktivitas fisik di kalangan anak perkotaan antara lain terbatasnya ruang terbuka hijau, jadwal sekolah dan les yang padat, serta kebiasaan bermain gawai. Dalam studi tersebut, 73% orang tua menyatakan bahwa anak mereka lebih memilih bermain di dalam rumah menggunakan perangkat digital ketimbang bermain di luar bersama teman.
Riset 3 Dari 5 dari tren ini mencerminkan bahwa tantangan gaya hidup sehat bukan hanya urusan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Jika tidak segera diintervensi, kebiasaan sedentari yang terbentuk sejak dini bisa berujung pada masalah kesehatan jangka panjang seperti penyakit jantung, diabetes, serta gangguan postur tubuh.
Dampak Kurangnya Aktivitas Fisik Terhadap Kesehatan Anak
Dampak Kurangnya Aktivitas Fisik Terhadap Kesehatan Anak membawa dampak serius yang tidak bisa dianggap remeh. Dokter spesialis anak, psikolog perkembangan, dan ahli gizi sepakat bahwa gaya hidup sedentari atau kurang gerak bisa menjadi sumber berbagai masalah kesehatan yang kompleks sejak usia dini.
Dampak yang paling banyak terlihat adalah meningkatnya angka obesitas anak di perkotaan. Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), angka obesitas anak di Indonesia meningkat 5% selama tiga tahun terakhir dan sebagian besar berasal dari keluarga yang tinggal di kota besar. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan kalori yang masuk ke tubuh tidak terbakar secara maksimal, sehingga menumpuk menjadi lemak.
Tak hanya itu, kurang bergerak juga memengaruhi pertumbuhan tulang dan otot anak. Aktivitas fisik seperti berlari, melompat, atau bermain olahraga ringan sangat penting untuk membantu pembentukan tulang yang kuat dan perkembangan motorik kasar. Anak-anak yang jarang bergerak cenderung mengalami gangguan postur seperti skoliosis atau mudah lelah saat beraktivitas fisik.
Secara psikologis, anak-anak yang tidak cukup aktif cenderung mengalami masalah konsentrasi, mood yang tidak stabil, dan bahkan gejala depresi ringan. Sebuah studi dari Universitas Indonesia menemukan bahwa anak-anak yang rutin berolahraga memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi, tidur lebih nyenyak, dan lebih mampu mengatur emosi.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Farhan Malik, menjelaskan bahwa olahraga dan aktivitas fisik membantu pelepasan hormon endorfin yang memberikan efek bahagia secara alami. “Jika anak terbiasa berdiam diri dan hanya menatap layar, otaknya menjadi kurang terstimulasi dan emosinya cenderung labil,” ujarnya.
Peran Orang Tua Dan Sekolah dalam Mendorong Aktivitas Sehat Berdasarkan Riset 3 Dari 5 Anak
Peran Orang Tua Dan Sekolah dalam Mendorong Aktivitas Sehat Berdasarkan Riset 3 Dari 5 Anak tidak bisa hanya. Dibebankan kepada pemerintah atau lembaga kesehatan. Peran orang tua dan sekolah menjadi kunci utama dalam membentuk gaya hidup aktif sejak usia dini. Kombinasi antara lingkungan rumah yang suportif dan program sekolah yang aktif dapat menjadi solusi konkret mengatasi masalah ini.
Di rumah, orang tua memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan anak. Jika orang tua lebih sering bermain gawai atau menonton televisi di waktu luang, anak cenderung akan meniru perilaku tersebut. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk menciptakan rutinitas aktivitas fisik bersama, seperti jalan pagi, bermain bola di halaman, atau melakukan senam ringan di rumah.
Menurut psikolog anak, Dr. Mia Puspitasari, anak akan lebih semangat beraktivitas jika merasa didukung dan dilibatkan secara langsung oleh keluarganya. “Kita harus menciptakan suasana yang menyenangkan saat anak bergerak. Jangan jadikan aktivitas fisik sebagai hukuman, tapi sebagai momen bermain dan interaksi yang menyenangkan,” ujarnya.
Di lingkungan sekolah, guru dan pengelola pendidikan juga bisa berkontribusi melalui penyesuaian jadwal yang lebih seimbang antara kegiatan akademik dan fisik. Beberapa sekolah swasta di kota besar mulai menerapkan program olahraga pagi setiap hari selama 20 menit sebelum pelajaran dimulai. Hasilnya, anak menjadi lebih segar, fokus, dan suasana belajar pun membaik.
Selain itu, penyediaan fasilitas olahraga sederhana seperti lapangan, alat permainan edukatif, dan zona bermain. Yang aman bisa menjadi dorongan besar agar anak lebih tertarik bergerak. Sekolah yang memiliki jadwal ekskul olahraga seperti futsal, tari, senam. Atau pencak silat juga lebih mampu menjaga tingkat aktivitas fisik siswanya.
Upaya Pemerintah Dan Komunitas Menghidupkan Ruang Gerak Anak
Upaya Pemerintah Dan Komunitas Menghidupkan Ruang Gerak Anak kini mulai menggencarkan. Program pembangunan ruang terbuka hijau dan fasilitas ramah anak di kawasan perkotaan. Salah satu inisiatif yang mencuri perhatian adalah program “Kota Layak Anak”, di mana setiap. Kelurahan diminta menyediakan minimal satu taman bermain yang aman, bersih, dan bisa diakses anak-anak tanpa biaya.
Program ini menyasar 150 kota dan kabupaten pada 2025 mendatang, dengan target jangka panjang. Menjadikan ruang publik sebagai “ruang tumbuh sehat” bagi generasi muda. Beberapa kota seperti Surabaya, Semarang, dan Depok telah lebih dulu mengembangkan. Taman kota interaktif lengkap dengan alat olahraga anak dan zona edukasi luar ruangan.
Di sisi lain, komunitas dan organisasi non-pemerintah juga mulai terlibat aktif. Komunitas pegiat olahraga seperti komunitas lari keluarga, sepeda santai, hingga komunitas permainan tradisional mulai bermunculan di banyak kota. Mereka secara rutin mengadakan kegiatan mingguan yang terbuka untuk umum. Seperti “Car Free Day Ceria” yang berfokus pada permainan fisik anak dan edukasi gaya hidup sehat.
Upaya ini juga melibatkan kerja sama lintas sektor. Misalnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menggandeng perusahaan swasta dalam program Corporate Social Responsibility (CSR). Untuk membangun sarana bermain dan mengadakan festival olahraga anak. Bahkan beberapa pusat perbelanjaan kini menyediakan area olahraga anak dalam ruangan sebagai bagian dari strategi promosi yang ramah keluarga.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Keterbatasan lahan di kota besar membuat beberapa wilayah tidak memiliki ruang terbuka memadai. Selain itu, keamanan dan perawatan fasilitas umum sering menjadi kendala utama. Banyak taman yang rusak atau tidak terawat dengan baik, sehingga kurang menarik bagi anak-anak untuk digunakan.
Secara keseluruhan, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan warga menjadi kunci. Untuk menciptakan lingkungan yang mendukung gaya hidup aktif bagi anak-anak di perkotaan. Dengan langkah konkret dan berkesinambungan, bukan tidak mungkin angka aktivitas fisik. Anak Indonesia bisa meningkat signifikan dalam lima tahun ke depan dari Riset 3 Dari 5.