Taman Teluknaga: Pemerintah Abai, Pemilik Warkop Turun Tangan

Taman Teluknaga: Pemerintah Abai, Pemilik Warkop Turun Tangan

Taman Teluknaga: Pemerintah Abai, Pemilik Warkop Turun Tangan Dan Menggunakan Dana Pribadi Dalam Merawatnya. Taman Teluknaga yang berada di Desa Tanjung Burung, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang. Tentu yang kini menyimpan potret miris ruang publik yang terlupakan. Dulunya, taman ini menjadi tempat favorit warga untuk bersantai, berolahraga. Dan hingga berkumpul bersama keluarga. Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda, wajahnya berubah drastis. Tidak adanya pengurus dan operasional resmi dari pemerintah membuat taman ini perlahan kehilangan fungsi sosialnya. Seiring berjalannya waktu, berbagai fasilitas mulai rusak bahkan hilang. Rumput liar tumbuh tinggi tak terawat, lampu penerangan banyak yang mati. Dan jalan di sekitar taman mengalami kerusakan. Kondisi tersebut membuat taman yang dulu ramai kini tampak sepi dan terkesan angker. Lebih dari sekadar ruang hijau yang terbengkalai, Taman Teluknaga kini menjadi simbol lemahnya perhatian terhadap fasilitas publik pascapandemi.

Fasilitas Rusak Dan Ancaman Keamanan

Fasilitas Rusak Dan Ancaman Keamanan menjadi akar persoalan utama. Sejak pandemi, tidak ada lagi petugas kebersihan, penjaga keamanan, maupun perawatan rutin dari pemerintah daerah. Akibatnya, fasilitas taman seperti bangku, permainan anak. Dan penerangan perlahan rusak tanpa perbaikan. Bahkan, sebagian fasilitas di laporkan hilang, di duga akibat minimnya pengawasan. Kondisi ini berdampak langsung pada rasa aman masyarakat. Penerangan yang minim membuatnya rawan kejahatan, terutama pada malam hari. Warga sekitar memilih menjauh karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Transisi dari taman yang hidup menjadi area yang di hindari ini terjadi begitu cepat. Dan seolah tanpa ada upaya pencegahan berarti. Selain itu, jalan rusak di sekitar taman juga memperparah keadaan. Akses yang tidak nyaman membuat pengunjung enggan datang. Bahkan pada siang hari. Padahal, ruang publik yang layak seharusnya menjadi pusat interaksi sosial dan penopang kualitas hidup warga. Kini, harapan itu seakan memudar.

Ketika Warga Turun Tangan Merawat Taman

Di tengah ketidakpedulian tersebut, muncul sosok Biran (53), warga Tanjung Burung sekaligus pemilik warung kopi di area taman. Sejak tidak ada lagi pengurus resmi, Biran dan istrinya menjadi satu-satunya pedagang yang bertahan. Bisa di katakan Ketika Warga Turun Tangan Merawat Taman yang semestinya pemerintah juga peduli. Setiap hari, Biran membersihkan area sekitar warung, memangkas rumput liar. Dan menjaga agar taman tidak sepenuhnya di kuasai semak belukar. Ia bahkan memilih tinggal di warung demi mengawasi taman, meski rumahnya hanya berjarak sekitar 50 meter. Keputusan ini bukan tanpa alasan.

Biran merasa keberadaannya setidaknya bisa mencegah tindakan kriminal dan vandalisme. Menariknya, sang istri memilih pulang ke rumah pada malam hari. Sementara Biran tetap tidur di warung. Pengorbanan ini mencerminkan kepedulian warga terhadap ruang publik yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Di tengah keterbatasan, Biran menjadi contoh nyata bahwa rasa memiliki terhadap lingkungan masih hidup di masyarakat.

Harapan Untuk Perhatian Dan Tanggung Jawab Pemerintah

Kisah Taman Teluknaga seharusnya menjadi Harapan Untuk Perhatian Dan Tanggung Jawab Pemerintah. Ruang publik bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan aset sosial yang membutuhkan perawatan berkelanjutan. Tanpa pengelolaan yang konsisten, fasilitas yang di bangun dengan dana publik berisiko mubazir dan kehilangan manfaatnya. Lebih jauh, kondisi taman yang terbengkalai juga berpotensi menimbulkan masalah sosial dan keamanan. Karena itu, keterlibatan pemerintah menjadi kunci utama untuk mengembalikan fungsinya. Penataan ulang, perbaikan fasilitas. Serta penempatan petugas pengelola dapat menjadi langkah awal dari Taman Teluknaga.